
Laporan khusus seputar Negeri Jiran Malaysia tahun 2006-2007 dari sebuah NGO di Kalimantan Timur, indikasi kuat [fakta] TKI terlibat dalam pilihan raya [pemilu] Malaysia. Wilayah Sabah – Ibukota Kinabalu, Kota perdagangan Tawao, Sandakan, dan Labuan. Pimpinan tertinggi Sabah adalah ketua Menteri yang menganut pilihan raya langsung yang memilih ketua Menteri. Pusat Raja di pimpin jabatan Keturunan Raja untuk neara bagian yang dipertuan agung (Datuk). Proyek Bunga Raya, dikendalikan oleh berkuasanya Barisan Nasional, dimana TKi beri Identitas Diri (ID) Card untuk pilihan raya, setalah Regime UMNO kalah telak pada 2 priode pilihan raya oleh partai oposisi Sabah Bersatu 1987 - 1997, yang dipimpin oleh Datuk DR Yosep Periing Kitingan (orang asli khadazan), yang menyatakan keluar dari Barisan nasional sebelumnya.
Proyek Bunga Raya banyak melibatkan TKI untuk pilihan raya, dan kekuasaan pemerintah menggunakan isu TKI ilegal sangat mudah menjaring. Tetapi ID Bunga raya tidak berlaku bagi police kerajaan Malaysia.
Minggu, 2008 Februari 17
Proyek Bunga Raya
Rakyat Bergolak di Philippina

Rakyat bergerak lebih 20.000 masa rakyat melakukan demo menentang pemerintahan AROYO Philippina....Ganyang korupsi, gantung KORUPTOR yang menyengsarakan
rakyat.......[sumber foto .tribunkaltim, 17/02/2008]
Jumat, 2008 Februari 15
Rejimen Askar Wataniah [ 11 ]

Sama Kaya Hankamrata
Hiruk pikuk Askar wataniah di Negeri Jiran yang katanya merekrut WNI, mendapat tanggapan dari Pangdam VI/ Tanjungpura Mayjen TNI Suhartono Suratman, yang berpusat di Balikpapan.
"Mereka (Malaysia, red) merekrut warga sipil mereka sendiri. Itu wajar! Seperti juga di negara Swiss. Kebanyakan perekrutan warga sipil dilakukan sebagai wajib militer. Negara yang merekrut warga sipil biasa adalah negara-negara yang tidak memiliki tentara," jelas Tono dalam acara jumpa pers di Makodam Tanjungpura, Kamis (14/2).
Ia juga meluruskan berita yang menyebutkan bahwa dirinya memberi keterangan di berbagai media perekrutan Askar Wataniah Malaysia terhadap warga sipil Indonesia. Menurut Tono apabila ada warga negara Indonesia ingin menjadi prajurit Askar Wataniah, hal itu dianggapnya sebagai hak pribadi. Karena setiap orang berhak atas pilihannya sendiri termasuk menjadi Askar Wataniah atau warga negara Malayisa.
"Warga Indonesia yang jadi warga negara Amerika ada juga kok. Kita tahu orang-orang Indonesia ada yang telah jadi warga Malaysia. Itu hak dia! Kita tidak bisa memaksakan nasionalisme seseorang," tuturnya.
Kendati kehadiran Askar Wataniah cukup menarik perhatian Indonesia, tetapi penerima Honourable Wing Badge dari Pemerintah Thailand ini tak menganggap paramiliter Malaysia tersebut sebagai ancaman. Ia menilai Askar Wataniah layaknya hansip di Indonesia (dulu Hamkamrata). [sumber Tribun, Jum'at, 15 Fabruari 2008]