Senin, 10 November 2008

Penduduk Wawonii Menolak Tambang dan Intimidasi



Dipulau Wawonii terdapat 6 perusahaan pertambangan yang mendapat prijinan dari Bupati Konawe, yaitu; 1) PT. Bumi Konawe Minning (PT. BKM). 2) PT. Konawe Bhakti Pratama (PT. KBP) 3) PT. Gema Gresia Perdana (PT. GGP) 4) PT. Derawan Pasir Berjaya Minning (PT. DPBM) 5) PT. Mineral Energi Indo. (PT. MEI) 6) PT. Antam Tbk, yang bergerak dibidang pertambangan Nikel, Pasir besi, cromit dan Emas. Dengan bermodalkan izin ini, investor langsung masuk di Wawonii tanpa adanya koordinasi dan atau sosialisasi dengan masyarakat Wawonii yang berdomisili di pulau Wawonii. Dugaan kuat masyarakat keterlibatan pengurus Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Wawonii mulai dari camatnya sampai dengan kepala desa, dan bahkan kapolsek serta koramil setempat.

Operasi 6 perusahaan pertambangan ini mengancam dan bahkan telah merusak sumber-sumber agraria penduduk seperti; kebun kelapa, kebun cengkeh, kebun jambu mete, kebun pala, kebun merica, hutan wawonii dan sumber air bersih yang digunakan penduduk akan musnah di wilayah Pulau Kecil Wawonii. Aktivitas tambang sudah dimulai di 23 Desa di 4 Kecamatan Pulau Wawonii dan sebagian besar wilayah Desa Mosolo, Rorko-roko, Nambo Jaya, Lampe Api, Batu Mea, Bobolio, dlsb. Sumber-sumber kekayaan alam ini merupakan menopang kehidupan masyarakat 28.544 jiwa di Pulau Wawonii, untuk kepentingan ekonomi keluarga, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Saat ini sudah mulai terancam dan bahkan dirusak oleh aktivitas perusahaan, yang berakibat pada hilangnya mata pencaharian, pendapatan penduduk menurun (bahkan hilang) daya beli berkurang, anak terancam putus sekolah, fenomena gizi buruk dan pencemaran sungai pesisir lau akan terjadi yang membawa dampak pada kehidupan ekonomi nelayan dan ekosistem pesisir laut Wawonii.

Ada upaya intimidasi terhadap masyarakat yang menolak kehadiran Tambang di Pulau Wawonii yang dilakukan oleh Oknum Aparat TNI setempat (Babinsa) dan Polisi atas kerjasama dengan pihak Perusahaan Tambang. Tekanan-tekanan ini membuat keresahan dan rasa ketakutan warga atas tindakan intimidasi, ini merupakan salah satu bentuk terjadi pelanggaran Hak-Hak Azasi Manusia yang terjadi atas kehadiran Investasi Tambang. Salah satu Contoh warga Mosolo, Roko-roko telah di tekan oleh aparat Polisi dan TNI.

Menolak rencana kerja 6 perusahaan tambang yaitu 1) PT. Bumi Konawe Minning (PT. BKM). 2) PT. Konawe Bhakti Pratama (PT. KBP) 3) PT. Gema Gresia Perdana (PT. GGP) 4) PT. Derawan Pasir Berjaya Minning (PT. DPBM) 5) PT. Mineral Energi Indo. (PT. MEI) 6) PT. Antam Tbk, yang akan bekerja di luas areal + 137. 347 hektar untuk pertambangan, karena aktivitas pertambangan akan mengancam 28.600 jiwa baik secara langsung maupun tidak langsung, karena berada di atas kebun, tanah, sumber air bersih dan hutan sumber kehidupan masyarakat Pulau Wawonii..

Menolak segala bentuk kekerasan dan intimidasi yang dilakukan perusahaan melalui aparat Polisi dan TNI yang ditterjunkan ke lapangan (pulau Wawonii) dengan alasan untuk mengamankan aktivitas pertambangan. Pemerintah (Bupati Konawe, Gubernur Sulawesi Tenggara dan Menteri Pertambangan) segera mencabut ijin ke 6 perusahaan tambang di Pulau Wawonii, karena akan mengancam hancurnya sumber-sumber kehidupan 28.544 jiwa penduduk Pulau Wawonii dengan segala potensi sumberdaya alamnya. Upaya penyelamatan Pulau Wawonii dilakukan dengan cara mencabut ijin dan mengembangkan potensi sumberdaya lokal dan sumberdaya manusia Pulau Wawonii agar dapat memberikan kontribusi yang lebih baik diluar pertambangan.[kws-9November2008]

Tambang Besar Kebijakan Buruk Bagi Wawonii


Selama empat hari berada di pulau kecil Wawonii rasa senang dapat belajar bersama masyarakat dan para mahasiswa komunitas Wawonii. Pulau ini sebuah pulau kecil yang berada di luar wilayah teluk Kendari, memiliki luas 82 km persegi, dengan pemandangan yang cukup indah, Wawonii dikenal sebagai penghasil kopra, cengkeh, pala, merica dan kekayaan laut lainnya seperti rumput laut, ikan serta kerang-kerangan. Penduduknya kurang lebih 28.544 jiwa yang terbagi kedalam 5 kecamatan terdiri dari 50 desa.

Dulu pada saat dikenal pertama kali Wawonii hanya ada 3 desa induk, sekitar tahun 1920an, tetapi perkembangan penduduk dan pembukaan lahan perkebunan dan pertanian di Wawonii sudah mencapai 50 desa. Sungguh perkembangan luar biasa. Secara admisnitrasi Wawonii masuk kedalam Kabupaten Konawe, perkembangan yang cepat serta pertumbuhan ekonomi yang membaik, Wawonii menuntut pemekaran menjadi kabupaten mandiri. Sumber-sumber agraria dari puncak gunung sampai dasar laut, ketika dihitung oleh para peserta lokakarya pelatihan pengorganisasian masyarakat Wawonii, penjualan hasil sumber-sumber alam berupa kebun, hasil laut secara perkiraan mencapai 225,7 miliar per tahun, artinya, sumbangan Wawonii ke Pemerintah kabupaten melalui pajak langsung dan tidak langsung mencapai 22,6 Miliar pertahun. Ini angka sungguh luar biasa besarnya. Bila saja angka sumbangan ini dikembalikan kepada Wawonii setiap tahunnya 50% dari jumlah total, maka pertumbuhan inrfastrukturnya akan lebih cepat dan membaik.

Sudah hampir dua tahun lebih penduduk pulau Wawonii di resahkan oleh kehadiran investasi tambang besar. Setidaknya Bupati Konawe mengeluarkan sebanyak 6 perijinan pertambangan besar seperti; Nikel, Pasri besi, Cromm dan Emas. Tentu saja kehadiran ini mendapat tantangan besar dari penduduk Wawonii yang sudah memiliki sumber-sumber penghidupan dari perkebunan cengkeh, pala, merica, kelapa, jambu mete, dan sektor perikanan – kelautan rumput laut, udang cumi dan beragam ikan. Budidaya pertanian dan perkebunan ini dilakukan sejak jaman nenek moyang orang Wawonii ratusan tahun yang lalu hingga sampai sekarang. Petani di sudah menjadi pekerjaan utama dan sumber kehidupan orang Wawonii. Keahlian sebagai petani yang dimiliki orang Wawonii warisan sakral yang diwarisi dari nenek moyang. Maka ketika itu akan di ganti dengan tambang hal inilah yang tidak di terima oleh masyarakat Wawonii.

Potret buruk kehadiran investasi tambang di Pulau Wawonii yang tidak mengkaji bahwa Wawonii adalah termasuk kedalam kriteria pulau kecil. Kehadiran tambang mendapat respon keras dari seluruh lapisan masyarakat pulau Wawonii. Pada dasarnya mereka menentang kehadiran tambang nikel, pasir besi dan emas. Respon masyarakat di wujudkan dalam bentuk protes kepada pemerintah dan perusahaan pertambangan sampai pada bentuk-bentuk perusakan camp camp perusahaan. Upaya rakyat sering kali mendapat dukungan dari gerakan penyelamatan Pulau Wawonii. Sekelompok organisasi lingkungan dan sosial sering membantu rakyat untuk membela hak-haknya, untuk menyelamatkan sumber-sumber kehidupan pulau Wawonii.[kws-9 november 2008]

Senin, 29 September 2008

MELINDUNGI HULU SUNGAI ASERA


Sungai yang menjadi pusat dari nelayan air tawar ini, adalah Kali Arano. Terletak di desa Linomoyo kec. Asera, merupakan anak sungai dari Sungai Besar Asera yang di sebut Sungai Lasolo. Sebutan Kali Arano berasal dari masyarakat setempat yang berarti kali yang di kelilingi rawa. Kali ini memang dikelilingi oleh rawa dan memutari satu daratan kecil yang dulunya daratan tersebut adalah area pertanian nenek moyang masyarakat desa Linomoyo dan sekitarnya, sehingga daratan ini berbentuk pulau kecil di tengah sungai (kali). Untuk sampai di kali Arano, bisa melalui desa Linomoyo dengan berjalan kaki menyusuri rawa namun bisa juga melalui jalur sungai Lasolo.

Pada tahun 2007, daratan yang berada di tengah kali Arano tersebut, hendak dijadikan lokasi ekspansi perkebunan sawit PT. Celebes Agro Lestari (PT. CAL), namun masyarakat desa Linomoyo melakukan penolakan. Luas tanah yang digarap seluas 20.000 hektar dan mengenai tanah adat di 2 desa termasuk Linomoyo. Warga pun melakukan aksi blockade lahan dan hutan, sekitar 3.000 hektar diselamatkan, dari jumlah ini, 800 hektar yang telah dibuka. Warga sepakat untuk melakukan penanaman pohon jati, buah-buahan dan tanaman palawija di lahan 800 hektar. Dengan semangat bersama, semua bibit pohon dikumpulkan lalu ditanam bersama. Selain itu, warga merencanakan untuk menanam pohon rotan di hutan-hutan sekitar desa yang termasuk kedalam wilayah kelola adat. Semangat ini, saya membantu untuk membuat management plan kelola kawasan dan sumbangan bibit rotan yang akan di pasok dari Kalimantan Timur. Rotan yang rencana di pasok jenis rotan sega untuk bahan baku pembuatan webbing dan rotan pulut merah yang memiliki warna kulit merah.

Rencana kerja warga tidak hanya di areal 3000 hektar, tetapi semua wilayah adapt akan di petakan ulang berdasarkan peruntukannya, mana yang akan di lestarian (konservasi) dan wilayah mana yang akan dilakukan pemanfaatan secara intensif dan pemanfaatan terbatas. Ini bentuk dari inisiatif local warga Linomoyo dalam mengelola kawasan hutan dan tanah adatnya. Untuk melakukan pendidikan rakyat, warga membangun sekolah rakyat sebagai sarana belajar bersama warga agar dapat bertukar informasi, pengetahuan dan ketrampilan. Sekolah ini ditujukan baik untuk sekolah in formal, maupun sekolah formal. [koes – linomoyo - 14 September 2008]